21

Kembali menulis lalu di upload di blog bisa terjadi karena beberapa hal, salah satunya adalah terlalu banyak unek-unek yang tidak dikeluarkan. Ciri-cirinya adalah saya jadi gampang sekali emosi bahkan pada hal remeh dan berujung nangis karena kenapasih semua orang nyebelin. Yes, I am that melancholiest.

Satu hari saat saya SMP kira-kira, ada seorang guru komputer yang bertanya apa cita-cita saya. Tidak spesifik hanya kepada saya, tepatnya ke seisi kelas. Dia menyebutkan beberapa profesi yang kemudian beberapa teman saya akan menunjuk tangan tanda nanti kami ingin jadi begitu ketika dewasa. Back then, saya SMP itu kira-kira usia saya 13-15 tahunan ya? 6 atau 7 tahun lalu. Insinyur. Ya saya mengangkat tangan ketika guru saya menyebutkan profesi itu. Entahlah. Insinyur apa? Bahkan saya ga ngerti apa yang Insinyur kerjakan saat saya menklaim itulah cita-cita saya.

Saat SMP saya banyak kenal teman-teman yang gemar membaca dan pergi ke perpus, perpustakaan daerah, wah bukunya lumayan banyak, dan itu dulu jadi tempat nongkrong saya saat pulang sekolah. Saya suka sekali membaca saat itu! Bukan dari smartphone tapi dari kertas asli. Koran, majalah, novel, koran bungkus gorengan, apapun! Saat itu saya ingin jadi penulis. Saya senang membaca dan suka menulis. Ah cita-citaku sungguh random dan terdengar meyakinkan. 

Sampai SMA saya suka menulis, saya ikut tim mading sekolah dan jadi editor wah seru sekali! Lalu madingnya menang terus! Wah saya senang sekali pokoknya. Bagi anak SMA usia 17 tahun, sekolah adalah segalanya, apapun prestasi yang dihasilkan saat sekolah sungguhlah membanggakan. Saya suka menulis dan ingin jadi editor.

Sampai saya bosan membaca, sampai sekeliling saya bukan orang-orang yang gemar membaca, dan sampai kegiatan sehari-hari yang cukup memuakkan dan oh kenapasih jadi anak sekolahan itu memang fase terbaik. Ya, saya bosan membaca, saya bosan menulis, sebulan, dua bulan, setahun, dua tahun. Lalu saya lupa, ingin jadi apa saya?

Awalnya denial tentu saja. Kok aku gini ya. Temen-temen aku semua terarah. Mereka sibuk kuliah dan fokus mencapai impian mereka. Jadi orang yang kebanyakan mikir itu terkadang menyiksa juga.
Tapi sebenarnya kalau fikiran saya lagi tenang dan hati sedang bisa berdamai dengan keadaan, impian saya masih terbayang, let me tell you what’s going on in my mind, in detail:

First, I just wanna to be happy. No matter life give me that damn lemons. Of course. I just wanna always to be happy in any situations.

To get that happy life, saya masih ingin jadi penulis, punya novel, terbitin di gramedia, cetak ulang puluhan kali, dimintain tanda tangan di halaman depan novel yang saya tulis. Atau saya ingin blogging sambil ngurus anak maybe HAHA. Haha hihi di blogger gathering, duduk-duduk sambil blogging, pageviews blog sekian juta, femes, tulisan viral, menyatukan dunia, TAKBIR!!!

Mungkin nanti, saya hanya ingin kerja? Sesungguhnya saya ingin kerja di pusat pengembangan riset, atau terlibat dalam suatu penelitian yang bisa mengubah uang menjadi tidak ada artinya LOL TAKBIR!! Yes I love to being an Analyst. I Love that fact my current job is an Analyst, but I just get a litte bit upset and messed up, sometimes. Boring is kinda okay rite?

30 tahun saya dimasa depan, saya gamau lagi pusing cari-cari passion. I just want to live my dream. Saya mau travelling kesana-kemari, tinggal dirumah yang didominasi warna pastel yang ada pohon gedenya dan atap rumah yang bisa dipakai buat camping dong, atau sekalian aja lah tinggalnya di deket-deket pohon, baca ulang novel Harry Potter, masak-masak menu sehat yang gemas-gemas sih kalo di Instagram hahahaha.

Ya gini, sebenarnya tadi saya baru aja buka web pendaftaraan cpns LOL kemudian baper semua yang dibutuhkan disitu adalah sarjana-sarjana-sarjana. Yaiyalah menurut ngana hehe. Tapi setelah dipikir, saya cuma bingung, saya ini mau jadi apa. Toh, ga ada niat jadi PNS (tapi mau kerja di pusat pengembangan riset, bye!).

Saya adalah contoh nyata dari passion anak yang tidak dikembangkan dan kurang tepat sasaran, silakan yang lagi bikin skripsi boleh dijadikan judul wkwkwk Satu teman saya yang kalo saya curhatin masalah ginian, dia akan menyemangati dengan sepucuk kalimat, ‘sekarang zamannya skill bukan ijazah’. Kemudian langsung ingin jadi CEO aja, searching bisnis apa yang berpotensi untuk jangka waktu lama. HAH KENAPA AKU SUNGGUH LABIL YA ALLAH.

The things is, to get all that happy life’s starter pack, I dunno how, I dunno what should I do. I dunno. Terdengar bodoh? Yah gitu. Saya terlalu diam di zona nyaman dan takut untuk keluar. Terkadang saya bilang sama diri sendiri, kamu tuh gasuka tantangan dan perubahan, how can you be so coward. For a big deal, I cant. Karena ini terlalu runyam ga sih. Kuliah masih semester 5, nilai juga ga spektakuler, for some people almamater saya dipandang sebelah mata, bahkan sangat sebelah mata. Mulai ulang kuliah di almamater yang ternama? Gimana sih caranya? Cari beasiswa itu gimana caranya? Saya gak tau.

Saya sudah bekerja, sudah punya income bulanan yang yah walaupun masih sering ngerasain tanggal tua yang mencekik tapi semua bisa terkendali. Saya bosan disini, saya ingin suasana baru, tapi meninggalkan ke-settle-an ini tebak siapa yang khawatir? Mama saya dong. Kolot memang. Hah. Dan tebak siapa yang tidak cukup berani untuk melawan ketakutan dan keluar dari zona nyaman? Saya. Tidak saya tidak puas dengan semua ini, sama sekali tidak.


Sudah ah, saya udah lumayan lega. Mau nonton drama korea dulu babay.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dari Rachel Vennya Kita Belajar.... apa?

Masih bahas Start Up

Cerita tentang 2020: Tahun yang aneh